Debu Masuk Rumah Warga Panjang, PT Semen Baturaja Didesak Benahi Sistem Pengendalian Emisi

Bandar Lampung|bensorinfo.com — Aktivitas industri yang berdampingan dengan permukiman warga kembali menjadi sorotan di Kecamatan Panjang. Sejumlah warga mengeluhkan debu yang mereka duga berasal dari aktivitas operasional PT Semen Baturaja Tbk.

Keluhan warga kali ini bukan hanya mengenai debu yang terlihat di lingkungan sekitar. Mereka mengaku partikel debu dapat masuk ke dalam rumah, menempel pada pakaian yang sedang dijemur, hingga membuat aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

Seorang warga menuturkan, kondisi tersebut terutama dirasakan ketika pintu atau jendela rumah terbuka. Debu disebut ikut terbawa masuk dan kemudian menempel pada berbagai permukaan di dalam rumah.

Pakaian yang sedang dijemur di luar rumah juga disebut tidak luput dari debu.

“Kalau pintu dibuka, debunya ikut masuk. Pakaian yang dijemur juga kena. Kadang baru dijemur sebentar sudah terlihat ada debunya,” ungkap warga.

Kondisi itu membuat warga harus lebih sering membersihkan rumah dan mengangkat pakaian sebelum waktu pengeringan selesai.

Persoalan tersebut semakin menjadi perhatian setelah sebelumnya terjadi kerusakan pada salah satu fasilitas produksi perusahaan pada 5 Agustus 2026.

Kerusakan dilaporkan terjadi pada bagian saringan penggiling. Selain itu, terdapat lubang pada casing antarcompartment yang diduga berkaitan dengan korosi pada material pelat.

Bagi warga, kerusakan fasilitas tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa optimal sistem pemeliharaan dan pengendalian debu di kawasan operasional perusahaan.

Mereka berharap perbaikan tidak berhenti pada komponen yang telah mengalami kerusakan, tetapi dilanjutkan dengan pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas lain yang berpotensi menimbulkan gangguan serupa.

Debu dan Kekhawatiran Kesehatan

Selain persoalan kebersihan rumah, warga juga menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak debu terhadap kesehatan.

Sejumlah warga mengaku mengalami keluhan seperti batuk, sesak, hingga gatal-gatal. Namun, mereka menyadari keluhan tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya.

Karena itu, warga meminta instansi terkait tidak hanya menerima laporan secara administratif, tetapi melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi lingkungan di sekitar permukiman.

“Kami tidak mengatakan pasti penyebabnya dari debu itu. Tetapi keluhan kesehatan memang ada. Kalau perlu, kami berharap ada pemeriksaan supaya semuanya jelas,” ujar warga.

Menurut mereka, kepastian mengenai kondisi kualitas udara menjadi penting karena masyarakat tinggal dan beraktivitas setiap hari di sekitar kawasan industri.

Warga Minta Pencegahan, Bukan Reaksi Setelah Ada Masalah

Warga menilai kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan.

Mereka meminta sistem pengendalian debu diperkuat melalui pemeliharaan berkala, inspeksi fasilitas secara menyeluruh, serta langkah mitigasi ketika terjadi gangguan pada peralatan produksi.

“Jangan menunggu masyarakat mengeluh dulu baru diperbaiki. Kalau bisa dicegah, tentu lebih baik,” kata warga.

Menurut masyarakat, keberadaan perusahaan di kawasan tersebut memang memiliki arti penting bagi kegiatan ekonomi. Namun, aktivitas produksi juga diharapkan tetap memperhatikan kenyamanan dan lingkungan permukiman di sekitarnya.

CSR Turut Dipertanyakan

Di tengah persoalan debu, warga juga kembali menyoroti pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Karto (53), salah seorang warga, mengatakan program CSR yang sebelumnya dirasakan masyarakat disebut sudah tidak berjalan seperti dahulu.

“Terakhir kali CSR berjalan itu tahun 2014. Sejak saat itu sampai sekarang tidak berjalan lagi,” ungkap Karto ketika ditemui Lihatwarta.id, Kamis (27/8/2026).

Hal senada disampaikan Randi (38). Ia mengatakan sebelum 2014 masyarakat masih menerima sejumlah bentuk bantuan, di antaranya hewan kurban dan paket sembako.

Menurut Randi, bantuan semen masih pernah diberikan pada kesempatan tertentu. Namun, warga berharap program sosial perusahaan tidak hanya berupa bantuan sesekali, melainkan memiliki kesinambungan dan menyentuh kebutuhan masyarakat sekitar.

“Dulu masyarakat masih merasakan bantuan seperti hewan kurban dan sembako. Sekarang sudah tidak seperti dulu,” ujarnya.

Warga juga mengaku proposal kegiatan masyarakat belakangan lebih jarang mendapatkan respons seperti sebelumnya.

Menunggu Langkah Konkret Perusahaan

Persoalan debu dan tuntutan terkait CSR kini menjadi dua hal yang disampaikan warga kepada perusahaan.

Untuk persoalan lingkungan, masyarakat meminta PT Semen Baturaja melakukan evaluasi terhadap sistem pengendalian debu dan kondisi fasilitas produksi secara menyeluruh.

Mereka juga meminta pemerintah serta instansi yang memiliki kewenangan di bidang lingkungan hidup melakukan pengawasan secara objektif, termasuk memastikan kondisi kualitas udara di kawasan permukiman sekitar industri.

Warga menegaskan tuntutan tersebut bukan dimaksudkan untuk menghambat kegiatan perusahaan.

Mereka hanya menginginkan aktivitas industri tetap berjalan tanpa menimbulkan gangguan yang dirasakan masyarakat sekitar.

“Perusahaan silakan berproduksi. Tetapi kami juga berharap lingkungan tempat kami tinggal tetap nyaman,” ujar warga.

Kini, masyarakat menunggu penjelasan dan langkah konkret PT Semen Baturaja terkait keluhan tersebut.

Hingga berita ini ditulis, pihak PT Semen Baturaja belum memberikan tanggapan atas keluhan warga mengenai debu, dugaan dampak kesehatan, maupun persoalan CSR yang disampaikan masyarakat.

Bagi warga, penyelesaian persoalan tersebut diharapkan tidak sebatas memperbaiki fasilitas yang sudah rusak. Yang lebih penting adalah memastikan sistem pencegahan dan pengendalian berjalan sehingga keluhan serupa tidak kembali terjadi.(Tim-Red)

 

Editor : Bambang.S.P|bensorinfo.com